Search

Content

0 komentar

Selamat HUT Pramuka Tahun 2019, Pramuka Siapa yang Punya?



Selamat HUT Pramuka Tahun 2019. Tepatnya HUT Pramuka ke-58. 

Jadi ingat, dulu, duluu sekali.
Meskipun makannya mie, kadang campur nasi (agak) basi, tapi selalu tetap berbagi.

Kebersamaan selalu menghampiri, tak pernah dibajak oleh kesibukan selfie

Jatah minum air juga berbagi, tapi selalu terasa seru meski saat diteguk rasanya asap. Keseruan yang tak pernah diposting di status fesbuk, Instagram maupun whatsapp.

Benar, dulu, duluu sekali itu, belum zamanya gadget.

Sehingga tidak ada yang heboh hapenya off karena habis baterai. Malah sebaliknya, punya dua buah baterai ever*ady saja sudah senang sekali. Gunanya buat senter untuk aktifitas di malam hari. Meskipun baterainya soak sehingga senternya kadang hidup – kadang mati.

INTINYA kemandirian dan kebersamaan dengan alam begitu terasa. Sampai-sampai yang ketahuan bawa bedak saja dibilang anak emak (baca: anak mama alias anak manja)

Dan, terakhir, jadi ingat juga, dulu, duluu sekali.

Kita sering bertepuk tangan sambil bernyanyi lagu ini:
“Pramuka siapa yang punya…
Pramuka siapa yang punya….
Pramuka siapa yang punya”

Kala itu di jawab dengan lirik “yang punyaa kita semuaa…”

Nah, kalau sekarang: Pramuka siapa yang punya?
Semoga jawabannya tetap sama.

Pastinya Selamat HUT Pramuka Tahun 2019.
Satyaku Ku Darmakan Darmaku Ku Baktikan
Baca selengkapnya »
0 komentar

5 Langkah Utama Agar Anak Tidak Terjebak Cyber Crime

Seperti air mendidih. Pastinya muncul rasa amarah yang tak tertahankan ketika melihat banyak anak yang jadi korban kejahatan. Termasuk kejahatan di dunia maya (cyber crime). Kejahatan yang beberapa hari ini mencuat kembali.  Baca: Segera Waspadai Grooming, Modus Baru Penjahat Pornografi terhadap Anak

Terbayang wajah – wajah polos yang dari sinar matanya memancar sejuta harapan. Bukan harapan kedua orang tuanya saja. Namun juga harapan bangsa. Karena kelak mereka yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini.

Selain marah. Tentu ada rasa sedih yang tak bertepi. Seharunya seusia mereka tidak perlu takut dan cemas dengan berbagai ancaman. Mereka harusnya bisa bebas, bermain dan melakukan kegiatan yang menguatkan tumbuh-kembangnya. 


Oleh karena itu. Sebelum banyak korban yang berjatuhan. Mari segera kita ambil langkah pencegahan. Jangan ditunda lagi. Karena mendeteksi pelaku disinyalir sangat sulit. Bisa saja dalam keseharian (dunia nyata) pelaku, ianya terlihat bijaksana. Memang  wadah untuk kegiatan jahatnya adalah sosial media. Jalurnya adalah dunia maya.

Sehingga salah satu jalan untuk menghadapi para pelaku biadab ini adalah dengan menutup aksesnya kepada anak-anak itu sendiri. Menutup apapun celahnya. Satu-satunya jalan untuk menutup akses tersebut adalah dengan pelibatan KELUARGA YANG AKTIF.

Keluarga aktif, setidaknya bisa melakukan LIMA hal utama di bawah ini:

SATU: BATASI waktu anak bersama gadget. Batasannya bukan hanya terkait waktu. Tetapi yang lebih penting adalah batasan konten atau aplikasi yang digunakannya. Apalagi bagi anak yang literasi digitalnya masih lemah.

KHUSUS anak di seusia SMP ke bawah, sebaiknya gadget tidak dijadikan HAK MILIK mereka. Apalagi bagi anak SD atau balita. STATUS gadget sebaiknya adalah pinjaman dari orang tua. Pemiliknya tetap orang tua. Namanya pemilik tentu punya hak mengakses, mengambil dan meminjamkan dong? 


DUA:  review aplikasi yang digunakan anak. Setelah anak menggunakan berbagai aplikasi. Orang tua seharusnya segera melakukan review dengan ikut mencoba. Mencari referensi tentang plus - minus aplikasi tersebut.

Dalam situasi seperti ini, orang tua tentu harus menguatkan literasi digitalnya. Jangan sampai 'dibodohi' dengan berbagai alasan anaknya sendiri.

TIGA:  bertemanlah dengan anak di media sosial. Ketika media sosial sudah menjadi kebutuhan generasi era sekarang. Sebagai orang tua, sudah sepatutnya juga hadir sebagai ‘teman’ di media sosialnya. 

Tentu, anak yang diperbolehkan melakukan register di media sosial adalah anak yang umurnya telah sesuai aturan. Jadi, orang tua jangan coba-coba ikut MEMBOHONGI data anak. Selanjutnya, waspadai ketika anak berubah menjadi tertutup. Termasuk ketika mereka menutupi akses orang tuanya untuk melihat time line atau insta story-nya.

EMPAT: kembalikan peran orang tua sebagai sahabat curhat. Sesibuk apapun, orang tua harus hadir mendegar keluh kesahnya. Jangan biarkan anak menjadikan orang asing sebagai teman pelarian untuk aktifitas curhatnya.

Pada posisi ini, orang tua setidaknya bisa memanfaatkan waktu saat bersama anak dengan aktifitas yang MINUS GADGET. Bisa dengan diskusi ringan (kalau diskusi terasa berat, bisa ngobrol ngalur - ngidul, temanya menyesuaikan apa maunya anak), makan bersama atau sekedar ikut berperan pada aktifitas main - bermainnya. 

LIMA: berdo’alah kepada Yang Maha Kuasa. Ketika ikhtiar sebagai orang tua sudah maksimal. Jangan lupa meminta kepada yang Maha Kuasa.

PASTINYA, jangan lupa juga untuk selalu bergandengan tangan. Saling mengingatkan, saling mengawasi dan saling mewaspadai. 

Baca selengkapnya »
0 komentar

Kecanduan Game = Gangguan Mental, Jangan Tunda Mendeteksi Gejalanya!


Kecanduan Game = Gangguan Mental

Heiii! ini bukan pernyataan emak – emak yang sewot karena melihat anaknya ‘menunduk’ tanpa jeda. Emak – emak yang  dianggap -- kadang oleh anaknya sendiri—GAPTEK. Bukan!

Ini juga bukan pernyataan tentang seseorang  yang sok suci di era serba teknologi ini. Bukan!

Tapi Ini adalah pernyataan resmi Organisasi Kesehatan Dunia, WHO alias World Health Organizations. Masih ingat sama organisasi ini atau sudah lupa?

Pernyataannya pada pertengahan tahun lalu. Artinya sekarang sudah satu tahun lebih pernyataan itu hadir.

Secara resmi WHO telah menyatakan bahwa kecanduan game (online atau offline) sebagai penyakit GANGUAN MENTAL.



Tapikan kita masih merasa norma-normal saja, 
nggak ada yang terganggu?

PERHATIKAN, PERTAMA,
Memiliki gangguan pada KONTROL DIRI. Artinya, seseorang tidak bisa mengendalikan saat bermain games (Kadang kesal dan marah tidak jelas, bahkan ada yang teriak – teriak sendiri bukan?)

KEDUA,
Mengutamakan games di atas  segalanya, meskipun ada yang lebih utama (Makan mimum bahkan B.A.B-pun dikesampingkan, apalagi belajar, bahkan teman atau orang tua sendirinya yang ngomong, dicuekin. Merasa?)

KETIGA,
Intensitas semakin meningkat alias KETAGIHAN,  Meskipun sadar  dan merasakan efek negatifnya. (Sadar menahan lapar –padahal sudah waktunya makan-- sadar bisa sakit, kemudian sakit bisa menyusahkan orang, bahkan bisa MATI. Tapi game tetap utama)

KEMUDIAN,
Dari sini kemudian menimbulkan dampak yang menggangu atau merusak kehidupannya: baik secara PRIBADI, KELUARGA, SOSIAL, PEKERJAAN, & hal penting lainnya.

Semoga benar kondisinya NORMAL, baik - baik saja. Tapi itulah gangguan mental, pasiennya sendiri kadang tidak merasakan. Tapi paling tidak, WHO sudah memberikan indikatornya seperti di atas. (Sekarang, silahkan dirasa, diterawang dan dirasakan kepada diri masing-masing)

(foto:iconfinder.com)

Tapikan 
Games membuat kita semakin KREATIF?

Seperti santer yang dimuat beberapa media, bahwa seorang dosen psikologi Universitas d’Montreal, Kanada, Gregory West menemukan:
85 persen pemain games action dengan durasi 6 jam lebih perminggu memiliki bagian abu –abu yang lebih sedikit pada bagian hipokampus.  
Hipokampus: bagian otak yang menjadi pusat belajar, penyimpanan, dan pengolahan memori jangka panjang. Apabila keseluruhan hipokampus rusak, atau bahkan hanya sebagian saja, maka  akan menyebabkan permasalahan pada  memori yang serius.
Mengapa demikian? Karena, katanya saat main game tersebut, pemain dipaksa berpikir kreatif  --- berpikir kreatif untuk mengalahkan lawan. Proses ini katanya melibatkan bagian otak yang bernama Striatum.
Striatum: bagian otak yang bertindak seperti  autopilot. Jadi, meskipun awalnya kelihatan kreatif, namun kemudian tanpa harus berpikir panjang, gerak – gerik (belok, maju, mundur, serang) akan menjadi sebuah kebiasan. Otomatis. Nah, ini menggunakan si Striatum

JADI, Jika Striatum semakin sering digunakan, otak akan sedikit menggunakan Hipokampus. SEHINGGA, Hipokampus perlahan tapi pasti akan kehilangan sel dan jaringannya.
DAMPAKNYA apa? Tentunya fatal.  
Para pecandu ini tidak bisa lagi mengigat sesuatu yang sifatnya jangka panjang. CEPAT LUPA. PIKUN.
Nah,  --terlepas dari temuan peneliti di atas-- SEKARANG, apakah sudah semakin sering mudah LUPA?

***

Eits, sebelum mendiagnosa Anak – anak di rumah.
Mari diagnosa pribadi – pribadi kita sendiri TERLEBIH dahulu.
Bisa jadi, aktifitas di ranah sosial media yang berlebihan juga bisa disetarakan dengan para pecandu games itu. Gangguan Mental.

Yuk Sadar!

Baca selengkapnya »
0 komentar

Ketika Orang Tua Kalah dengan Rasa 'MALU'

Anak, seharusnya menikmati masanya (foto: helpguide.org)
Meskipun sejak dulu, disadari bahwa kecerdasan itu majemuk. Alias banyak.
Kita tahu, dari berbagai teori yang dibaca. Kita sadar, dari berbagai artikel yang disebar.

Tapi mengapa?
Kita masih malu, jika anak tidak mendapat rangking satu.
Kita masih sengsara, jika anak tidak jago matematika
Kita masih bingung, jika sikecil masih terbata ca-lis-tung

Dan, kejamnya. Merekapun dengan segera divonis: anak bodoh. anak gagal. Kejam!

***
Padahal. Itu semua BERBAHAYA. 
Bukankah pendidikan itu PROSES?

Gagal hari ini, bukan berarti besok harus gagal lagi. Begitu juga sebaliknya. Sukses hari ini, bukan berarti besok bebas dari kegagalan. 
Pola gagal - sukses inilah yang saat ini jarang diajarkan dalam belajar - mengajar.
Anak - anak itu hanya dituntut sukses semata. Tidak diajari bagaimana cara mengatasi kegagalan..

Pola pembelajaran yang demikian bukan malah melahirkan anak BERPRESTASI. Namun, sebaliknya yang ada hanyalah anak yang cepat FRUSTASI.

***
Kecerdasan Majemuk (foto: tirto.id)
Jadi, masihkah KITA kalah dengan 'amatan' orang lain?

Kita malu, jika anak tidak mendapat rangking satu.
Kita sengsara, jika anak tidak jago matematika
Kita bingung, jika sikecil masih terbata ca-lis-tung

Padahal sejatinya, mereka masih berproses. 
Menemukan ruang - ruang stimulasi, untuk melejitkan potensi kercerdasanya masing - masing.

Bisa jadi, sekarang tidak mendapat rangking satu, 20 tahun lagi malah menjadi RI - 1
Bisa jadi, sekarang tidak jago matematika, 20 tahun lagi memiliki karya legendaris yang menDUNIA

Dan bisa jadi, jika si kecil masih terbata ca-lis-tung,  ia adalah satu diantara banyak anak yang paling BERUNTUNG.

Karena saat ini, bukan rahasia lagi jika anak - anak seusianya digenjot les ini - itu. Tujuannya agar bisa ini, bisa itu, dan bisa lainnya. Matematika, bahasa, musik, bela diri, renang dan apapun disabet habis oleh waktunya. 

Padahal ini adalah golden age baginya. Tidak akan terulang untuk kedua kali.

  Laporan tindak pidana korupsi berdasarkan profesi (foto: lokadata.beritagar.id)


Oh ya. SATU lagi. Bisa jadi. Ini baru hipotesis. Nanti bisa diuji lebih lanjut. (Silahkan klik foto grafik di atas untuk lebih jelas)

Bisa jadi, pola - pola yang membuat anak selalu terbebani. Kemudian menghasilkan generasi FRUSTASI ini. Kelak, ketika mereka sudah mulai mengendalikan AKAL. Nurani disimpan. 

Akhirnya, mereka akan menjadi AHLI MANIPULASI. 

Mungkin, ini jugakah awal dari sumber perilaku KORUPSI yang bak air bah di negeri ini?

Pastinya. Kita tidak ingin lagi menambah daftar panjang ORANG PINTAR -- sekolahnya tinggi -- yang ujung-ujungnya menjadi pesakitan di balik jeruji, karena KORUPSI. 

Yuk, sadar!


Baca selengkapnya »
0 komentar

Segera Waspadai Grooming, Modus Baru Penjahat Pornografi terhadap Anak

Segera waspadai aksi grooming (foto: latinamericanpost)

'Bareskrim Polri pada Selasa (9/7/2019) menangkap seorang pria berinisial TR (25), narapidana di Surabaya, karena diduga mencabuli 50 anak di bawah umur dengan rentang usia 11-17 tahun ' (Kompas, 24 Juli 2019)

Seperti yang juga dilansir oleh berbagai media. Inilah salah satu hasil temuan ketika tertangkapnya pelaku. Pelaku buas dan biadab. Yang rela melakukan pelecehan seksual terhadap anak - anak. 

Bahkan, di email pelaku ditemukan seribuan foto/video anak - anak. 


Tanpa busana. 

Aksi pelecehan ini dilakukan via media sosial. 

Terbaru, Kamis (25/7) kembali tertangkap lagi pelaku dengan aksi yang sama.

Aksi pelecehan. Korbannya sama. Masih anak di bawah umur. Selain memakai perangkap melalui media sosial, pelaku ini bergerilya melalui games online.

Lantas, bagaimana bisa? Pastinya dalam pengakuannya. Pelaku pelecehan ini mengaku menyuruh sang target untuk melakukan apa yang ia minta. 


Membuka pakaian. Meminta korban memenuhi hasratnya. Dan seterusnya. 

Sampai disini. Sebagai orang tua. Minimal sebagai manusia. Bagaimana perasaannya sekarang?


Kesal. Marah. Khawatir. 


Namun apapun, perasaan itu. 


Sekarang saatnya mewaspadai pelaku. Tentu yang utama adalah mengawasi, mengasihi dan menyayangi anak - anak di sekitar kita. 


Termasuk anak kita sendiri. Karena, aksi para penjahat biadab yang diistilahkan dengan grooming ini - pelakunya disebut groomer - sangat sulit di deteksi. 

Mereka memanfaatkan KELENGAHAN peran keluarga. Bisa jadi - semoga TIDAK - mereka ada di bagian keluarga korban itu. 


LANTAS, APA ITU GROOMING? 


Mengenal pola pelaku grooming (foto:monkwoodprimary)


NSPCC (National Society for the Prevention of Cruelty to Children), sebuah organisasi internasional yang konsentrasi pada pencegahan atau perlindungan anak  melalui portal resminya menyatakan: 
Grooming is when someone builds a relationship, trust and emotional connection with a child or young person so they can manipulate, exploit and abuse them.
Kata kuncinya: pelaku pada akhirnya membangun kepercayaan dan hubungan emosional. Melalui modal inilah akhirnya mereka melakukan apapun yang diinginkan. Pelecehan seksual. Bahkan bisa jadi sampai ke titik perdagangan anak. 

Menurut psikiater forensik di Amerika Serikat, Michael Mark Welner, M.D, sebagaimana yang dikutip Kompas, menurutnya para groomer ini juga berusaha memisahkan korban dari teman dan keluarganya dengan menggambarkan diri mereka sebagai orang yang ISTIMEWA bagi korbannya.

Lebih jauh, menurut Chairman dari  The Forensic Panel ini ada 6 tahapan yang dilakukan pelaku sebelum sampai pada aksi biadabnya. 

SATU,
Menentukan korban yang biasanya kurang memiliki PERHATIAN ORANG TUA

DUA,
Mencari cara untuk MENDAPATKAN KEPERCAYAAN korban dengan memberikan korban perhatian

TIGA,
MEMENUHI KEBUTUHAN korban

EMPAT,
MENGISOLASI korban dari pergaulannya

LIMA,
MULAI --ke tujuan -- melakukan aktivitas seksual mulai dari meminta foto, menyentuh dan merangsang keingintahuan anak tentang hubungan seks

ENAM,
MENGONTROL dan MENGINTIMIDASI anak dengan pemerasan

Sekarang, perhatikan baik-baik tahapan tersebut. 

Jika dilihat dari tahapan yang dilakukan pelaku. Sekali lagi, KESIMPULANNYA: pelaku membangun KEPERCAYAAN dan HUBUNGAN EMOSIONAL. 

Pelaku berusaha MENJADI ORANG TUA atau ORANG TERDEKAT bagi korban. 



(foto: teenshield)

SEKARANG! BERGEGASLAH, UNTUK KEMBALI...

CEMASLAH, 
ketika mereka begitu BAHAGIA dengan dunia mayanya

SADARLAH, 
ketika mereka mulai tertutup di ruang keluarganya

BERGEGASLAH, 
untuk kembali menjadi: teman curhat, tempat bermain dan hiburan baginya

Semoga kita bisa saling menjaga.

Karena siapapun anak itu. Mereka adalah aset keluarga. Masa depan bangsa. 



Baca selengkapnya »
Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang ia pelajari di sekolah

(Albert Einstein)
Tidak ada yang lebih indah ketika anak tertidur pulas kecuali Sang Ibu yang bahagia karena telah menidurkannya

(RW Emerson)
Kecuplah anak dengan kasih sayang,
Meski sekali, tapi itu sangat berarti
Meski sejenak, tapi itu memberi jejak

(Kissmemom)