Hari Ini, Sudah Berapa Kalikah Si Kecil Mendapatkan Pelukan + Ciuman?

Meski terkesan 'sepele' dan 'sederhana.' Aktifitas mencium dan memeluk anak yang hanya butuh beberapa detik itu, kadang sering terlewati. Alasannya sederhana: sibuk dan lupa

5 Langkah Utama Agar Anak Tidak Terjebak Cyber Crime

Seperti air mendidih. Pastinya muncul rasa amarah yang tak tertahankan ketika melihat banyak anak yang jadi korban kejahatan.

Kecanduan Game = Gangguan Mental, Jangan Tunda Mendeteksi Gejalanya!

Heiii! ini bukan pernyataan emak – emak yang sewot karena melihat anaknya ‘menunduk’ tanpa jeda. Emak – emak yang dianggap -- kadang oleh anaknya sendiri—GAPTEK. Bukan!

Ketika Orang Tua Kalah dengan Rasa 'MALU'

Kita masih malu, jika anak tidak mendapat rangking satu.Kita masih sengsara, jika anak tidak jago matematika. Kita masih bingung, jika sikecil masih terbata ca-lis-tung

Segera Waspadai Grooming, Modus Baru Penjahat Pornografi terhadap Anak

Kata kuncinya: pelaku pada akhirnya membangun kepercayaan dan hubungan emosional. Melalui modal inilah akhirnya mereka melakukan apapun yang diinginkan. Pelecehan seksual. Bahkan bisa jadi sampai ke titik perdagangan anak.

Content

0 komentar

Tahun Depan, Mata Pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan Dipisah, Setujukah?


sumber foto: kompas.com, 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Muhadjir Effendy berencana untuk memisahkan antara mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan Pancasila.

Pemisahan itu dengan tujuan agar mata pelajaran Pancasila memiliki bobot materi untuk penanaman nilai Pancasila, sekaligus implementasi dan pengamalannya. Sedangkan, Pendidikan Kewarganegaraan akan lebih banyak memberikan pengetahuan.

"Setelah kita evaluasi ketika mata pelajaran Pancasila dijadikan satu dengan Kewarganegaraan, maka Pancasilanya ketularan Kewarganegaraan, banyak pengetahuan. Jadi Pancasila menjadi pelajaran pengetahuan," kata Muhadjir di Solo, Jawa Tengah, Jumat (4/10/2019).

Menurut Muhadjir, pada 2020 nanti, mata pelajaran Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan harus dipisahkan. Sebab, jika masih digabung maka pendidikan Pancasila hanya akan menjadi mata pelajaran pengetahuan.

Kemendikbud sendiri telah melakukan kajian terkait rencana pemisahan kedua mata pelajaran itu. "Sebaiknya tahun 2020 nanti, mata pelajaran Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan dipisah," kata Muhadjir.

Dengan pemisahan itu, siswa diharapkan dapat lebih fokus untuk menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam mata pelajaran Pancasila. "Penanaman dan pengamalan nilai Pancasila sangat penting untuk diajarkan kepada anak," kata Muhadjir.

sumber artikel : kompas.com

Baca selengkapnya »
0 komentar

Bencana Asap & Ketidakberdayaan Kita




Langsung saja, sekarang mari kita do’akan bersama:

SATU: Semoga bencana ASAP segera HILANG dan masyarakat bisa kembali menghirup udara segar; 

DUA: Semoga para PEMBUAT ASAP ini dan siapapun yang BERKOMPROMI dengannya, juga bisa segera HILANG dari muka bumi ini!


Mungkin ini do'a yang terbaik di tengah ketidakberdayaan kita menghadapi bencana asap yang rutin terjadi. Do'a ketika melihat mereka yang seharusnya BERDAYA namun juga merasa seperti tak berdaya.

Padahal asap itu berbahaya. Setidaknya begini menurut catatan dari Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes tahun 2016 lalu.

Pertama, asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan berdampak langsung pada kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan.

Kedua, asap mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang menggangu pernapasan seperti seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3).

Ketiga, material tersebut memicu dampak buruk yang nyata pada manula, bayi dan pengidap penyakit paru. Meskipun tidak dipungkiri dampak tersebut bisa mengenai orang sehat.

Coba ketik digugel, bahayanya jika manusia tercemar gas2 tersebut. Sungguh bahanya sekali!

Bagaimana kita bicara membangun SDM unggul, jika anak-anak kecil itu sudah disusupi partikel berhaya sejak kecil, sejak dari kandungannya malah.

Bagaimana kita behasrat membangun pendidikan yang berkualitas.Belum selesai kita bicara tentang sekolah yang miskin sarana, kekurangan guru, eh sekarang terkena dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan yang beratus ribu hektare itu!

Baca selengkapnya »
0 komentar

Sungguh TEGA!

Sungguh TEGA!
Ketika kita sering mengumbar selebrasi kebahagiaan bersama anak di sosial media. Namun, kenyataanya keseharian anak itu selalu merasakan ‘kehilangan’ akan kehadiran kita sebagai orang tuanya, bahkan saat berkumpul bersama di ruang keluarga sekalipun.

Sungguh TEGA!
Ketika kita sibuk mencari update informasi terkini, tak melewatkan satupun peristiwa yang tersiar di media massa, tak terlewatkan satupun kisah viral yang tersebar di sosial media. Namun, kita selalu lupa dengan update mengenai perkembangan anak hari ini. Adakah yang terluka? Adakah yang tersakiti?

Sungguh TEGA!
Ketika kita begitu tergesa menyambut deringan telepon atau membalas chat dengan seseorang yang jauh disana. Namun kita sering berucap: 'tunggu sebentar, sabar, nanti saja' ketika anak sedang meminta disapa dan dimanja.

Sungguh TEGA!
Ketika kita tahan 5 jam bahkan lebih hanya untuk bercengkaram, bercerita, berhaha-hihi ria saat nongkrong bersama teman-teman. Namun baru satu jam bermain bersama anak, kita langsung bilang "ayah (atau bunda) capek nak!"

Sungguh TEGA!
Ketika kita selalu mencatat semua janji, baik dengan atasan, rekan kerja ataupun relasi kerja dengan tujuan agar tidak ada yang terlupa dan terlewatkan. Namun kita selalu rajin mengumbar janji sekaligus mengingkari dan menyepelekan apa yang pernah dijanjikan kepada anak. Kita sering anggap itu adalah 'janji-janji kecil' atau 'ntar anak juga lupa.'

Sungguh TEGA!
Kadang kita lebih banyak ketiduran dengan hape di tangan. Bukan ketiduran saat mengusap atau memegang tangan lembutnya.

Sungguh TEGA!
Saat bangun tidurpun, kita bergegas mencari hape, kemudian klik sana - sini. Bukan bergegas untuk mengusap dan menciumnya dengan manja seraya berdo'a untuk kesolehannya.

Sungguh TEGA!
Ketika kita hanya merasa berhasil saat bisa melahirkannya dan membesarkannya. Namun lupa mempersiapkan masa depan dan masa akhiratnya. Bukankah satu dari tiga amal yang terus mengalir kepada kita nanti itu adalah do'a yang terlantun dari hatinya?

Sampai disini, masihkah TEGAKAH kita berperilaku demikian?
Baca selengkapnya »
0 komentar

Membentak Anak Vs Membanting Gadget, Pilih Mana?


Di zaman serba gadget ini, membalas chat teman lebih dipandang utama.
Ketimbang menyapa anak yang sedang menangis manja.

Di zaman serba gadget ini, kita sering meminta waktu kepada buah hati
sebentar ya Nak… jangan ganggu dulu ya Nak…
Ayah  lagi teleponan dulu, penting!
Ibu lagi balas chat teman dulu, penting!

Jika sesekali sih oke. tapi jika sering kali?
Apalagi jika itu adalah waktu- waktu yang terbatas bagi anak.
Karena mereka tahu, sebentar lagi  Ayah-Ibunya akan berangkat kerja.
Karena mereka sadar, besok waktu libur telah usai.

Pernahkah kita BERPIKIR SEBALIKNYA?

Anak – anak itulah yang seharusnya berkata:
Hei orang yang sedang di telepon ayah
Hei orang yang sedang di chat Ibu
Jangan ganggu Ayah – Ibu dulu ya!
Wahai Ayah – Ibu, ini adalah waktuku!
Kehadiran dan perhatian dari Ayah – Ibu selalu aku tunggu, karena PENTING!

Dan, makanya di zaman serba gadget ini,
Anak sering DIMARAH bahkan mungkin DIPUKUL
ketika sadar, karena ulahnya, gadget kesayangan kita tejatuh
Tapi maukah kita dengan rela MEMBANTING gadget
ketika sadar pehatian kita kepadanya semakin rapuh?

Yah, beginilah. Teknologi yang terus dan cepat berkembang itu memang bagaikan ARUS.
Ketika menghadapi ARUS, Pilihan yang biasa dipilih itu ada dua: mengikutinya atau melawannya.

Jika MENGIKUTINYA. Kita bablas!
Jika MELAWANNYA. Kita tergilas!
Padahal ada pilihan lain yang lebih bijak: MENGELOLANYA.
Mengelolanya agar menjadi energi kemudian memberikan MANFAAT.

Tentu saja, untuk MENGELOLA setidaknya kita perlu tiga hal ini:
SATU: Perlu hati yang jernih.
DUA: Perlu kebijaksanaan yang utuh.
TIGA: Perlu pengetahuan yang matang.

Dengannya, kemudian kita akan  tahu mana yang memberikan manfaat atau justru menghadirkan mudorat alias petaka dalam rumah tangga!

Baca selengkapnya »
0 komentar

Hari Ini, Sudah Berapa Kalikah Si Kecil Mendapatkan Pelukan + Ciuman?


Meski terkesan 'sepele' dan 'sederhana.' Aktifitas mencium dan memeluk anak yang hanya butuh beberapa detik itu, kadang sering terlewati. Alasannya sederhana: sibuk & lupa 

Alasannya, ada yang terikat dengan office hours. Namun, ketika berkumpul bersama anak saat weekend-pun, peluk - cium tak kunjung diberikan. Alasannya sederhana: sibuk dan lupa lagi.

Padahal, kalau kita sadar: kuantitas memberikan pelukan + ciuman ini  berbanding lurus dengan waktu. Semakin gede anak - anak itu, akan semakin jarang mereka mendapatkan pelukan + ciuman dari orang tuanya. Biasanya dimulai saat meninggalkan usia dininya (7 atau 8 tahun ke atas). Benarkan?

Padahal, kalau kita sadar: frekuensi memberikan pelukan + ciuman ini juga akan berbanding lurus dengan tingkat kerewelan anak. Semakin anak rewel, semakin jauhlah harapannya untuk mendapatkan pelukan + ciuman dari orang tuanya. Terutama saat orang tuanya sendiri telah mengkategorikan rewelnya itu berada pada grade 'darurat.' Bukan pelukan + ciuman. Malah mendapatkan hantaman kemarahan. 

SEKARANG, pertanyaannya ada 2 (dua) saja. 
SATU, sanggupkah kita menahan sang waktu agar umur anak tidak bertambah?
DUA, sanggupkah kita menahan sang anak agar semasa balitanya tidak rewel?

Untuk itu, sebelum waktu berjalan dan kemudian kita baru menyadarinya ketika anak-anak itu sudah besar. Bahkan bisa jadi ketika mereka sudah mempunyai anak-anak malah. Sungguh terlambat sudah.

Dan sebelum kita melakukan tindakan-tindakan bodoh dalam menangani tangis - rewel sang anak.

SEKARANG, lakukan saja langkah sederhana ini. Sederhana. Tidak perlu energi. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Hanya butuh kepekaan hati plus  jiwa yang tulus dan tenang. Peluk dan ciumlah mereka!

Sederhana bukan? Namun dari sikap yang 'kecil' ini mempunyai dampak yang sepanjang masa (lifelong benefits). Bahkan, dengan memberi pelukan + ciuman kepada anak akan memberikandampak konkrit lainnya, seperti:

SATU. Akan membangun kontak batin yang kuat antara orang tua dengan anaknya. Jangankan  anak. Bagi yang sudah berpasangan dengan sah (suami - istri). Biasanya ketika terjadi 'debat' atau 'selisih paham'. bukankah semuanya bisa diredakan dengan sebuah pelukan yang penuh kasih sayang?

DUA. Mengendorkan ketegangan syaraf sekaligus mengurangi tekanan darah tingginya. Beberapa pakar pernah mengungkapkan hal ini terjadi karena pengaruh hormon. Salah satunya hormon oxytocin yang meningkat ketika anak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya melalui pelukan + ciuman tentunya. 

TIGA. Memberi rasa nyaman dan ketenangan kepada anak, sehingga kelak mereka  menjadi pribadi yang matang dalam mengabil keputusan. 

Tentu kematangan ini juga akan berdampak bagi kehidupannya di masa mendatang. Mereka bisa bebas dari  pribadi yang 'serba galau'. Mereka bisa bebas dari kepribadian yang 'senang' menyalahkan masa lalu dan orang lain. Meski dalam situasi yang paling sulit sekalipun. 

Nah, hari ini, sudah berapa kali si kecil di rumah mendapatkan pelukan + ciuman dari ayah-bundanya? 

Baca selengkapnya »
0 komentar

Selamat HUT Pramuka Tahun 2019, Pramuka Siapa yang Punya?



Selamat HUT Pramuka Tahun 2019. Tepatnya HUT Pramuka ke-58. 

Jadi ingat, dulu, duluu sekali.
Meskipun makannya mie, kadang campur nasi (agak) basi, tapi selalu tetap berbagi.

Kebersamaan selalu menghampiri, tak pernah dibajak oleh kesibukan selfie

Jatah minum air juga berbagi, tapi selalu terasa seru meski saat diteguk rasanya asap. Keseruan yang tak pernah diposting di status fesbuk, Instagram maupun whatsapp.

Benar, dulu, duluu sekali itu, belum zamanya gadget.

Sehingga tidak ada yang heboh hapenya off karena habis baterai. Malah sebaliknya, punya dua buah baterai ever*ady saja sudah senang sekali. Gunanya buat senter untuk aktifitas di malam hari. Meskipun baterainya soak sehingga senternya kadang hidup – kadang mati.

INTINYA kemandirian dan kebersamaan dengan alam begitu terasa. Sampai-sampai yang ketahuan bawa bedak saja dibilang anak emak (baca: anak mama alias anak manja)

Dan, terakhir, jadi ingat juga, dulu, duluu sekali.

Kita sering bertepuk tangan sambil bernyanyi lagu ini:
“Pramuka siapa yang punya…
Pramuka siapa yang punya….
Pramuka siapa yang punya”

Kala itu di jawab dengan lirik “yang punyaa kita semuaa…”

Nah, kalau sekarang: Pramuka siapa yang punya?
Semoga jawabannya tetap sama.

Pastinya Selamat HUT Pramuka Tahun 2019.
Satyaku Ku Darmakan Darmaku Ku Baktikan
Baca selengkapnya »
Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang ia pelajari di sekolah

(Albert Einstein)

TENTANG KISSMEMOM

kissmemom adalah suara keresahan. Keresahan atas berbagai tragedi yang menghujam ruang kemerdekaan generasi penerus bangsa: anak - anak kita. Bahkan saat bersama kedua orang tua terkasihnya sekalipun, mereka harus rela kehilangan rasa dan makna cinta - kasih.

kissmemom adalah suara gerakan. Gerakan untuk mengutip kembali kepingan cinta - kasih yang hilang itu. Untuk kemudian dikembalikan kepada sang pemiliknya: anak-anak kita.
Tidak ada yang lebih indah ketika anak tertidur pulas kecuali Sang Ibu yang bahagia karena telah menidurkannya

(RW Emerson)
Kecuplah anak dengan kasih sayang,
Meski sekali, tapi itu sangat berarti
Meski sejenak, tapi itu memberi jejak

(Kissmemom)

Kontak KISSMEMOM

email: kissmemompliss@gmail.com