baca sekarang

Jumat, 26 Juli 2019

Segera Waspadai Grooming, Modus Baru Penjahat Pornografi terhadap Anak

Segera waspadai aksi grooming (foto: latinamericanpost)

'Bareskrim Polri pada Selasa (9/7/2019) menangkap seorang pria berinisial TR (25), narapidana di Surabaya, karena diduga mencabuli 50 anak di bawah umur dengan rentang usia 11-17 tahun ' (Kompas, 24 Juli 2019)

Seperti yang juga dilansir oleh berbagai media. Inilah salah satu hasil temuan ketika tertangkapnya pelaku. Pelaku buas dan biadab. Yang rela melakukan pelecehan seksual terhadap anak - anak. 

Bahkan, di email pelaku ditemukan seribuan foto/video anak - anak. 


Tanpa busana. 

Aksi pelecehan ini dilakukan via media sosial. 

Terbaru, Kamis (25/7) kembali tertangkap lagi pelaku dengan aksi yang sama.

Aksi pelecehan. Korbannya sama. Masih anak di bawah umur. Selain memakai perangkap melalui media sosial, pelaku ini bergerilya melalui games online.

Lantas, bagaimana bisa? Pastinya dalam pengakuannya. Pelaku pelecehan ini mengaku menyuruh sang target untuk melakukan apa yang ia minta. 


Membuka pakaian. Meminta korban memenuhi hasratnya. Dan seterusnya. 

Sampai disini. Sebagai orang tua. Minimal sebagai manusia. Bagaimana perasaannya sekarang?


Kesal. Marah. Khawatir. 


Namun apapun, perasaan itu. 


Sekarang saatnya mewaspadai pelaku. Tentu yang utama adalah mengawasi, mengasihi dan menyayangi anak - anak di sekitar kita. 


Termasuk anak kita sendiri. Karena, aksi para penjahat biadab yang diistilahkan dengan grooming ini - pelakunya disebut groomer - sangat sulit di deteksi. 

Mereka memanfaatkan KELENGAHAN peran keluarga. Bisa jadi - semoga TIDAK - mereka ada di bagian keluarga korban itu. 


LANTAS, APA ITU GROOMING? 


Mengenal pola pelaku grooming (foto:monkwoodprimary)


NSPCC (National Society for the Prevention of Cruelty to Children), sebuah organisasi internasional yang konsentrasi pada pencegahan atau perlindungan anak  melalui portal resminya menyatakan: 
Grooming is when someone builds a relationship, trust and emotional connection with a child or young person so they can manipulate, exploit and abuse them.
Kata kuncinya: pelaku pada akhirnya membangun kepercayaan dan hubungan emosional. Melalui modal inilah akhirnya mereka melakukan apapun yang diinginkan. Pelecehan seksual. Bahkan bisa jadi sampai ke titik perdagangan anak. 

Menurut psikiater forensik di Amerika Serikat, Michael Mark Welner, M.D, sebagaimana yang dikutip Kompas, menurutnya para groomer ini juga berusaha memisahkan korban dari teman dan keluarganya dengan menggambarkan diri mereka sebagai orang yang ISTIMEWA bagi korbannya.

Lebih jauh, menurut Chairman dari  The Forensic Panel ini ada 6 tahapan yang dilakukan pelaku sebelum sampai pada aksi biadabnya. 

SATU,
Menentukan korban yang biasanya kurang memiliki PERHATIAN ORANG TUA

DUA,
Mencari cara untuk MENDAPATKAN KEPERCAYAAN korban dengan memberikan korban perhatian

TIGA,
MEMENUHI KEBUTUHAN korban

EMPAT,
MENGISOLASI korban dari pergaulannya

LIMA,
MULAI --ke tujuan -- melakukan aktivitas seksual mulai dari meminta foto, menyentuh dan merangsang keingintahuan anak tentang hubungan seks

ENAM,
MENGONTROL dan MENGINTIMIDASI anak dengan pemerasan

Sekarang, perhatikan baik-baik tahapan tersebut. 

Jika dilihat dari tahapan yang dilakukan pelaku. Sekali lagi, KESIMPULANNYA: pelaku membangun KEPERCAYAAN dan HUBUNGAN EMOSIONAL. 

Pelaku berusaha MENJADI ORANG TUA atau ORANG TERDEKAT bagi korban. 



(foto: teenshield)

SEKARANG! BERGEGASLAH, UNTUK KEMBALI...

CEMASLAH, 
ketika mereka begitu BAHAGIA dengan dunia mayanya

SADARLAH, 
ketika mereka mulai tertutup di ruang keluarganya

BERGEGASLAH, 
untuk kembali menjadi: teman curhat, tempat bermain dan hiburan baginya

Semoga kita bisa saling menjaga.

Karena siapapun anak itu. Mereka adalah aset keluarga. Masa depan bangsa. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar