Search

Content

Selasa, 06 Agustus 2019

5 Langkah Utama Agar Anak Tidak Terjebak Cyber Crime

Seperti air mendidih. Pastinya muncul rasa amarah yang tak tertahankan ketika melihat banyak anak yang jadi korban kejahatan. Termasuk kejahatan di dunia maya (cyber crime). Kejahatan yang beberapa hari ini mencuat kembali.  Baca: Segera Waspadai Grooming, Modus Baru Penjahat Pornografi terhadap Anak

Terbayang wajah – wajah polos yang dari sinar matanya memancar sejuta harapan. Bukan harapan kedua orang tuanya saja. Namun juga harapan bangsa. Karena kelak mereka yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini.

Selain marah. Tentu ada rasa sedih yang tak bertepi. Seharunya seusia mereka tidak perlu takut dan cemas dengan berbagai ancaman. Mereka harusnya bisa bebas, bermain dan melakukan kegiatan yang menguatkan tumbuh-kembangnya. 


Oleh karena itu. Sebelum banyak korban yang berjatuhan. Mari segera kita ambil langkah pencegahan. Jangan ditunda lagi. Karena mendeteksi pelaku disinyalir sangat sulit. Bisa saja dalam keseharian (dunia nyata) pelaku, ianya terlihat bijaksana. Memang  wadah untuk kegiatan jahatnya adalah sosial media. Jalurnya adalah dunia maya.

Sehingga salah satu jalan untuk menghadapi para pelaku biadab ini adalah dengan menutup aksesnya kepada anak-anak itu sendiri. Menutup apapun celahnya. Satu-satunya jalan untuk menutup akses tersebut adalah dengan pelibatan KELUARGA YANG AKTIF.

Keluarga aktif, setidaknya bisa melakukan LIMA hal utama di bawah ini:

SATU: BATASI waktu anak bersama gadget. Batasannya bukan hanya terkait waktu. Tetapi yang lebih penting adalah batasan konten atau aplikasi yang digunakannya. Apalagi bagi anak yang literasi digitalnya masih lemah.

KHUSUS anak di seusia SMP ke bawah, sebaiknya gadget tidak dijadikan HAK MILIK mereka. Apalagi bagi anak SD atau balita. STATUS gadget sebaiknya adalah pinjaman dari orang tua. Pemiliknya tetap orang tua. Namanya pemilik tentu punya hak mengakses, mengambil dan meminjamkan dong? 


DUA:  review aplikasi yang digunakan anak. Setelah anak menggunakan berbagai aplikasi. Orang tua seharusnya segera melakukan review dengan ikut mencoba. Mencari referensi tentang plus - minus aplikasi tersebut.

Dalam situasi seperti ini, orang tua tentu harus menguatkan literasi digitalnya. Jangan sampai 'dibodohi' dengan berbagai alasan anaknya sendiri.

TIGA:  bertemanlah dengan anak di media sosial. Ketika media sosial sudah menjadi kebutuhan generasi era sekarang. Sebagai orang tua, sudah sepatutnya juga hadir sebagai ‘teman’ di media sosialnya. 

Tentu, anak yang diperbolehkan melakukan register di media sosial adalah anak yang umurnya telah sesuai aturan. Jadi, orang tua jangan coba-coba ikut MEMBOHONGI data anak. Selanjutnya, waspadai ketika anak berubah menjadi tertutup. Termasuk ketika mereka menutupi akses orang tuanya untuk melihat time line atau insta story-nya.

EMPAT: kembalikan peran orang tua sebagai sahabat curhat. Sesibuk apapun, orang tua harus hadir mendegar keluh kesahnya. Jangan biarkan anak menjadikan orang asing sebagai teman pelarian untuk aktifitas curhatnya.

Pada posisi ini, orang tua setidaknya bisa memanfaatkan waktu saat bersama anak dengan aktifitas yang MINUS GADGET. Bisa dengan diskusi ringan (kalau diskusi terasa berat, bisa ngobrol ngalur - ngidul, temanya menyesuaikan apa maunya anak), makan bersama atau sekedar ikut berperan pada aktifitas main - bermainnya. 

LIMA: berdo’alah kepada Yang Maha Kuasa. Ketika ikhtiar sebagai orang tua sudah maksimal. Jangan lupa meminta kepada yang Maha Kuasa.

PASTINYA, jangan lupa juga untuk selalu bergandengan tangan. Saling mengingatkan, saling mengawasi dan saling mewaspadai. 

0 komentar:

Posting Komentar

Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang ia pelajari di sekolah

(Albert Einstein)
Tidak ada yang lebih indah ketika anak tertidur pulas kecuali Sang Ibu yang bahagia karena telah menidurkannya

(RW Emerson)
Kecuplah anak dengan kasih sayang,
Meski sekali, tapi itu sangat berarti
Meski sejenak, tapi itu memberi jejak

(Kissmemom)