Search

Content

Jumat, 02 Agustus 2019

Kecanduan Game = Gangguan Mental, Jangan Tunda Mendeteksi Gejalanya!


Kecanduan Game = Gangguan Mental

Heiii! ini bukan pernyataan emak – emak yang sewot karena melihat anaknya ‘menunduk’ tanpa jeda. Emak – emak yang  dianggap -- kadang oleh anaknya sendiri—GAPTEK. Bukan!

Ini juga bukan pernyataan tentang seseorang  yang sok suci di era serba teknologi ini. Bukan!

Tapi Ini adalah pernyataan resmi Organisasi Kesehatan Dunia, WHO alias World Health Organizations. Masih ingat sama organisasi ini atau sudah lupa?

Pernyataannya pada pertengahan tahun lalu. Artinya sekarang sudah satu tahun lebih pernyataan itu hadir.

Secara resmi WHO telah menyatakan bahwa kecanduan game (online atau offline) sebagai penyakit GANGUAN MENTAL.



Tapikan kita masih merasa norma-normal saja, 
nggak ada yang terganggu?

PERHATIKAN, PERTAMA,
Memiliki gangguan pada KONTROL DIRI. Artinya, seseorang tidak bisa mengendalikan saat bermain games (Kadang kesal dan marah tidak jelas, bahkan ada yang teriak – teriak sendiri bukan?)

KEDUA,
Mengutamakan games di atas  segalanya, meskipun ada yang lebih utama (Makan mimum bahkan B.A.B-pun dikesampingkan, apalagi belajar, bahkan teman atau orang tua sendirinya yang ngomong, dicuekin. Merasa?)

KETIGA,
Intensitas semakin meningkat alias KETAGIHAN,  Meskipun sadar  dan merasakan efek negatifnya. (Sadar menahan lapar –padahal sudah waktunya makan-- sadar bisa sakit, kemudian sakit bisa menyusahkan orang, bahkan bisa MATI. Tapi game tetap utama)

KEMUDIAN,
Dari sini kemudian menimbulkan dampak yang menggangu atau merusak kehidupannya: baik secara PRIBADI, KELUARGA, SOSIAL, PEKERJAAN, & hal penting lainnya.

Semoga benar kondisinya NORMAL, baik - baik saja. Tapi itulah gangguan mental, pasiennya sendiri kadang tidak merasakan. Tapi paling tidak, WHO sudah memberikan indikatornya seperti di atas. (Sekarang, silahkan dirasa, diterawang dan dirasakan kepada diri masing-masing)

(foto:iconfinder.com)

Tapikan 
Games membuat kita semakin KREATIF?

Seperti santer yang dimuat beberapa media, bahwa seorang dosen psikologi Universitas d’Montreal, Kanada, Gregory West menemukan:
85 persen pemain games action dengan durasi 6 jam lebih perminggu memiliki bagian abu –abu yang lebih sedikit pada bagian hipokampus.  
Hipokampus: bagian otak yang menjadi pusat belajar, penyimpanan, dan pengolahan memori jangka panjang. Apabila keseluruhan hipokampus rusak, atau bahkan hanya sebagian saja, maka  akan menyebabkan permasalahan pada  memori yang serius.
Mengapa demikian? Karena, katanya saat main game tersebut, pemain dipaksa berpikir kreatif  --- berpikir kreatif untuk mengalahkan lawan. Proses ini katanya melibatkan bagian otak yang bernama Striatum.
Striatum: bagian otak yang bertindak seperti  autopilot. Jadi, meskipun awalnya kelihatan kreatif, namun kemudian tanpa harus berpikir panjang, gerak – gerik (belok, maju, mundur, serang) akan menjadi sebuah kebiasan. Otomatis. Nah, ini menggunakan si Striatum

JADI, Jika Striatum semakin sering digunakan, otak akan sedikit menggunakan Hipokampus. SEHINGGA, Hipokampus perlahan tapi pasti akan kehilangan sel dan jaringannya.
DAMPAKNYA apa? Tentunya fatal.  
Para pecandu ini tidak bisa lagi mengigat sesuatu yang sifatnya jangka panjang. CEPAT LUPA. PIKUN.
Nah,  --terlepas dari temuan peneliti di atas-- SEKARANG, apakah sudah semakin sering mudah LUPA?

***

Eits, sebelum mendiagnosa Anak – anak di rumah.
Mari diagnosa pribadi – pribadi kita sendiri TERLEBIH dahulu.
Bisa jadi, aktifitas di ranah sosial media yang berlebihan juga bisa disetarakan dengan para pecandu games itu. Gangguan Mental.

Yuk Sadar!

0 komentar:

Posting Komentar

Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang ia pelajari di sekolah

(Albert Einstein)
Tidak ada yang lebih indah ketika anak tertidur pulas kecuali Sang Ibu yang bahagia karena telah menidurkannya

(RW Emerson)
Kecuplah anak dengan kasih sayang,
Meski sekali, tapi itu sangat berarti
Meski sejenak, tapi itu memberi jejak

(Kissmemom)