Search

Content

Kamis, 01 Agustus 2019

Ketika Orang Tua Kalah dengan Rasa 'MALU'

Anak, seharusnya menikmati masanya (foto: helpguide.org)
Meskipun sejak dulu, disadari bahwa kecerdasan itu majemuk. Alias banyak.
Kita tahu, dari berbagai teori yang dibaca. Kita sadar, dari berbagai artikel yang disebar.

Tapi mengapa?
Kita masih malu, jika anak tidak mendapat rangking satu.
Kita masih sengsara, jika anak tidak jago matematika
Kita masih bingung, jika sikecil masih terbata ca-lis-tung

Dan, kejamnya. Merekapun dengan segera divonis: anak bodoh. anak gagal. Kejam!

***
Padahal. Itu semua BERBAHAYA. 
Bukankah pendidikan itu PROSES?

Gagal hari ini, bukan berarti besok harus gagal lagi. Begitu juga sebaliknya. Sukses hari ini, bukan berarti besok bebas dari kegagalan. 
Pola gagal - sukses inilah yang saat ini jarang diajarkan dalam belajar - mengajar.
Anak - anak itu hanya dituntut sukses semata. Tidak diajari bagaimana cara mengatasi kegagalan..

Pola pembelajaran yang demikian bukan malah melahirkan anak BERPRESTASI. Namun, sebaliknya yang ada hanyalah anak yang cepat FRUSTASI.

***
Kecerdasan Majemuk (foto: tirto.id)
Jadi, masihkah KITA kalah dengan 'amatan' orang lain?

Kita malu, jika anak tidak mendapat rangking satu.
Kita sengsara, jika anak tidak jago matematika
Kita bingung, jika sikecil masih terbata ca-lis-tung

Padahal sejatinya, mereka masih berproses. 
Menemukan ruang - ruang stimulasi, untuk melejitkan potensi kercerdasanya masing - masing.

Bisa jadi, sekarang tidak mendapat rangking satu, 20 tahun lagi malah menjadi RI - 1
Bisa jadi, sekarang tidak jago matematika, 20 tahun lagi memiliki karya legendaris yang menDUNIA

Dan bisa jadi, jika si kecil masih terbata ca-lis-tung,  ia adalah satu diantara banyak anak yang paling BERUNTUNG.

Karena saat ini, bukan rahasia lagi jika anak - anak seusianya digenjot les ini - itu. Tujuannya agar bisa ini, bisa itu, dan bisa lainnya. Matematika, bahasa, musik, bela diri, renang dan apapun disabet habis oleh waktunya. 

Padahal ini adalah golden age baginya. Tidak akan terulang untuk kedua kali.

  Laporan tindak pidana korupsi berdasarkan profesi (foto: lokadata.beritagar.id)


Oh ya. SATU lagi. Bisa jadi. Ini baru hipotesis. Nanti bisa diuji lebih lanjut. (Silahkan klik foto grafik di atas untuk lebih jelas)

Bisa jadi, pola - pola yang membuat anak selalu terbebani. Kemudian menghasilkan generasi FRUSTASI ini. Kelak, ketika mereka sudah mulai mengendalikan AKAL. Nurani disimpan. 

Akhirnya, mereka akan menjadi AHLI MANIPULASI. 

Mungkin, ini jugakah awal dari sumber perilaku KORUPSI yang bak air bah di negeri ini?

Pastinya. Kita tidak ingin lagi menambah daftar panjang ORANG PINTAR -- sekolahnya tinggi -- yang ujung-ujungnya menjadi pesakitan di balik jeruji, karena KORUPSI. 

Yuk, sadar!


0 komentar:

Posting Komentar

Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang ia pelajari di sekolah

(Albert Einstein)
Tidak ada yang lebih indah ketika anak tertidur pulas kecuali Sang Ibu yang bahagia karena telah menidurkannya

(RW Emerson)
Kecuplah anak dengan kasih sayang,
Meski sekali, tapi itu sangat berarti
Meski sejenak, tapi itu memberi jejak

(Kissmemom)