baca sekarang

Kamis, 05 September 2019

Sungguh TEGA!

Sungguh TEGA!
Ketika kita sering mengumbar selebrasi kebahagiaan bersama anak di sosial media. Namun, kenyataanya keseharian anak itu selalu merasakan ‘kehilangan’ akan kehadiran kita sebagai orang tuanya, bahkan saat berkumpul bersama di ruang keluarga sekalipun.

Sungguh TEGA!
Ketika kita sibuk mencari update informasi terkini, tak melewatkan satupun peristiwa yang tersiar di media massa, tak terlewatkan satupun kisah viral yang tersebar di sosial media. Namun, kita selalu lupa dengan update mengenai perkembangan anak hari ini. Adakah yang terluka? Adakah yang tersakiti?

Sungguh TEGA!
Ketika kita begitu tergesa menyambut deringan telepon atau membalas chat dengan seseorang yang jauh disana. Namun kita sering berucap: 'tunggu sebentar, sabar, nanti saja' ketika anak sedang meminta disapa dan dimanja.

Sungguh TEGA!
Ketika kita tahan 5 jam bahkan lebih hanya untuk bercengkaram, bercerita, berhaha-hihi ria saat nongkrong bersama teman-teman. Namun baru satu jam bermain bersama anak, kita langsung bilang "ayah (atau bunda) capek nak!"

Sungguh TEGA!
Ketika kita selalu mencatat semua janji, baik dengan atasan, rekan kerja ataupun relasi kerja dengan tujuan agar tidak ada yang terlupa dan terlewatkan. Namun kita selalu rajin mengumbar janji sekaligus mengingkari dan menyepelekan apa yang pernah dijanjikan kepada anak. Kita sering anggap itu adalah 'janji-janji kecil' atau 'ntar anak juga lupa.'

Sungguh TEGA!
Kadang kita lebih banyak ketiduran dengan hape di tangan. Bukan ketiduran saat mengusap atau memegang tangan lembutnya.

Sungguh TEGA!
Saat bangun tidurpun, kita bergegas mencari hape, kemudian klik sana - sini. Bukan bergegas untuk mengusap dan menciumnya dengan manja seraya berdo'a untuk kesolehannya.

Sungguh TEGA!
Ketika kita hanya merasa berhasil saat bisa melahirkannya dan membesarkannya. Namun lupa mempersiapkan masa depan dan masa akhiratnya. Bukankah satu dari tiga amal yang terus mengalir kepada kita nanti itu adalah do'a yang terlantun dari hatinya?

Sampai disini, masihkah TEGAKAH kita berperilaku demikian?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar