baca sekarang

Minggu, 03 November 2019

Kurikulum Baru. Harapan Baru?

Kurikulum ganti lagi? Sah-sah saja. Alasannya menjadi wajar, karena memang kondisi zaman yang terus berubah. Ketika, misalkan hasil tidak sesuai dengan harapan.

Kurikulum ganti lagi? Menjadi tidak wajar, jika perjalanan kurikulum itu belum tuntas.

Begini. Bukankah kurikulum itu dibuat sejalan dan terpadu, setidaknya dari jenjang SD sampai SMA/sederajat? Berarti butuh 12 tahun dong untuk kita bisa melihat bagaimana hasil lulusan dari kurikulum itu?

Dulu, gak usah dulu2 sekalilah.

Kita start dari 2003/2004 saja.

2004. Ada KBK, eh belum jalan satu periode pemerintahan (5 tahun), udah diganti dengan KTSP pada 2006.

KTSP-pun belum sempat berjalan jauh. 2013, muncul K-13 alias kurtilas alias kuriklum 2013.

Masih ingat? Saat tahun2 awal penerapan K-13, sekolah2 kita terbagi dalam dua mazhab. Mazhab KTSP dan Mazhab K-13.

Tapi anehnya, tidak ada perbedaan soal kepada dua mazhab ini saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

Kurikulum beda, soal UN sama. Jadi bedanya di mana?

Sempat jalan tertatih, K-13 hampir menemui 'ajal'nya, tapi takdir masih berpihak. K-13 masih tetap eksis, hanya ditambah embel2 edisi revisi dan edisi revisi.

Nah, akankah di era pemerintahan 2019-2024 kurikulum akan berubah lagi? Bisa jadi. Sinyal2 itu terlihat jelas.

******
Poinya. Semoga pergantian kurikulum bisa membawa kemaslahatan anak didik lebih baik. Baik saat sekolah. Baik saat lulus sekolah. Dan baik jika nanti saat berkiprah!

Coba lihat kiri kanan. Fakta2 miris terus bergelimpangan.

Mulai dari anak2. Mereka semakin 'dewasa' sebelum waktunya. Tontonannya semakin liar menyajikan tayangan yang kebablasan.

Orangtuanya. Orang tuanya juga semakin sibuk dengan 'teknologi' di genggamannya. Perhatian ke anak kadang hanya sekedar menghiasi ruang sosial media saja.

Keluarga dan tetangganya. Sama seperti orang tua. Kepedulian sudah seperti barang mahal. Individualisme merajalela.

Para pembuat kebijakan, politisi dan siapapun yang sedang nyaman di singasananya. Juga seperti tak habis2nya berlaga di medan politik. Saling sindir. Membenarkan teman, menyalahkan lawan. Tapi ah, pastinya yang kita tahu perilaku korupsi masih subur.

******

Terakhir. Semoga pergantian demi pergantian kurikulum ini tidak menjebak guru dalam rutinitas 'semu'.

Berjibaku dengan laporan, sementara anak didiknya terabaikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar